Niha Salsabila
UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Selama ini, kita sering kali menganggap kesulitan belajar matematika pada anak-anak sebagai hal yang lumrah dan wajar terjadi. Hal ini terlihat jelas dari bagaimana proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar masih cenderung dilakukan secara konvensional dan monoton dalam menyampaikan konsep-konsep yang bersifat abstrak.(Ma’iswati Hani dkk. 2024) Di sekolah, misalnya, peserta didik sering kali dipaksa untuk memahami materi yang kurang relevan dengan minat mereka melalui metode ceramah satu arah, sementara inovasi media pembelajaran yang menarik masih sangat minim tersedia.
Rendahnya hasil belajar matematika tidak pernah diposisikan sebagai persoalan sistemik yang serius hingga kita melihat data faktual di lapangan. Menjadi sebuah ironi ketika di era digital yang berkembang sangat pesat ini, dunia pendidikan masih terjebak dalam penggunaan media statis seperti LKS yang tidak berwarna. Berdasarkan observasi di salah satu sekolah dasar, rata-rata nilai matematika peserta didik pada materi luas daerah bangun datar bahkan masih berada di bawah 50.(Nur Sholikah, “Wawancara Guru Kelas,” 2025) Hal ini menunjukkan bahwa kriteria ketuntasan minimal (KKM) belum terpenuhi akibat kurangnya visualisasi prosedural yang mampu menjembatani pemahaman konsep secara mendalam.
Fenomena ini menuntut kita untuk melakukan refleksi diri terhadap cara kita menyajikan materi pendidikan. Jean Piaget telah mengingatkan bahwa anak usia sekolah dasar secara kognitif berada pada tahap operasional konkret(Jean Piaget 1964), namun mereka justru dipaksa menghadapi karakteristik matematika yang abstrak. Jika stimulus yang diterima anak dalam belajar cenderung membosankan, maka semangat dan motivasi belajar mereka akan menurun secara drastis.(Ixfina dkk. 2024) Padahal, di sisi lain, teknologi telah menjadi bagian integral yang sulit dipisahkan dari kehidupan modern dan menawarkan peluang besar untuk mentransformasi sektor pendidikan.(Darmayasa dkk. 2025)
Kita perlu menyadari bahwa anak-anak adalah pembelajar visual yang luar biasa; mereka membutuhkan narasi untuk memahami logika. Masalahnya bukan pada ketidakmampuan anak, melainkan pada media yang gagal menyajikan materi secara kontekstual. Oleh karena itu, menghadirkan komik digital bukanlah sekadar gaya-gayaan mengikuti tren, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk memanusiakan proses belajar itu sendiri. Melalui alur naratif “Petualangan di Negeri Geometria” materi yang awalnya abstrak diubah menjadi bahasa visual dan cerita yang mampu mengubah trauma angka menjadi sebuah kesenangan. Media ini bukan hanya memberi hiburan, tetapi juga menyediakan fitur evaluasi dengan umpa
n balik skor secara real-time yang selama ini absen dalam metode konvensional.
Pada akhirnya, dibutuhkan lebih dari sekadar instruksi guru di kelas untuk meningkatkan mutu pendidikan di abad ke-21. Diperlukan upaya mendasar yang melibatkan kolaborasi antara guru, sekolah, dan pemanfaatan teknologi secara bijak. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif melalui media yang inovatif, kita tidak hanya membantu peserta didik mencapai hasil belajar yang optimal, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan teknologi yang penting bagi masa depan mereka.(Rakhman dkk. 2024)
